Minggu, 10 April 2016

Jurnal Karya Ilmiah, (Di Susun Oleh : Alit Sumpena, S.Pd.SD) UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN OPERASI HITUNG YANG MELIBATKAN SATUAN PENGUKURAN BERAT MELALUI METODE DEMONTRASI SISWA KELAS V SD NEGERI SITUSARI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT

Karya Ilmiah
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN OPERASI HITUNG YANG MELIBATKAN SATUAN PENGUKURAN BERAT MELALUI METODE DEMONTRASI SISWA KELAS V
SD NEGERI SITUSARI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT

Oleh : Alit Sumpena, S.Pd.SD
SD Negeri Pangauban  01 Kec. Cisurupan Kab. Garut

ABSTRAK

Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang kurang disenangi oleh siswa walalupun besar sekali manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Mata pelajaran matematika di kelas V SD Negeri Situsari  01 sama halnya dengan Sekolah  yang lain masih belum mencapai hasil yang diharapkan.
Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan salah satu metode yaitu metode demonstrasi, apakah dengan metode demonstrasi hasil belajar siswa dapat ditingkatkan?.
Dengan berpijak dari teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli tentang variabel yang ada pada judul penelitian, maka diperoleh gambaran dengan kerangka berpikir bahwa hasil belajar akan ditentukan oleh proses pembelajaran dimana penggunaan metode sangat berpengaruh terhadap proses tersebut. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing siklus dilakukan dalam dua kali pertemuan dengan tes pada akir tiap siklus.
Berdasarkan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, hasil penenlitian membuktikan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran matematika Kelas V SD Negeri Situsari  01 pada pokok bahasan operasi hitung yang melibatkan satuan pengukuran berat, disamping dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.
Hasil penelitian yang telah tersimpul, penulis melayangkan sejumlah saran kepada pihak-pihak terkait untuk menggunakan metode yang efektif yang sesuai dan cocok dengan karakteristik mata pelajaran, dengan harapan hasil belajar dapat ditingkatkan.



Kata Kunci  : Metode Demontrasi, dalam meningkatkan hasil belajar MATEMATIKA




PENDAHULUAN
Sesuai dengan tuntutan UU Sistim Pendidikan Nasional, proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik apabila ada interaksi antara guru dengan siswa, sehingga siswa dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Keberhasilan proses pembelajaran dapat ditunjukkan oleh penguasaan materi pelajaran yang dikuasai siswa, juga ditentukan pula oleh upaya peningkatan propesional guru.
Guru yang berkualitas tinggi atau guru yang baik memiliki ciri-ciri tertentu. Salah satu cirri itu adalah  mengaktifkan siswanya dalam belajar. Siswa diberi kesempatan untuk mengalami, mencoba, dan melaksanakan atau mempraktikan apa yang telah dipelajarinya untuk memperoleh hasil yang lebih mantap. (S. Nasution, 2009:24). Guru sebagai ujung tombak dalam pendidikan berkewajiban menciptakan situasi pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk berani melakukan interaksi tatkala proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu guru harus mampu menggunakan seluruh perangkat pembelajaran baik berupa pendekatan, metoda, media pembelajaran dan hal lainnya yang relevan dengan penciptaan situasi belajar yang kondusif.
Akan tetapi, dalam proses pembelajaran yang terjadi selama ini, tampak banyak guru yang mengabaikan cirri-ciri di atas. Khususnya pembelajaran Matematika cenderung masih konvensional. Kegiatan belajar mengajar hanya didominasi oleh guru, Akibatnya proses belajar mengajar yang dirasakan siswa membosankan, tidak menarik, dan membuat siswa tidak termotivasi. Akhirnya siswa tidak berminat untuk belajar yang berdampak pada hasil belajar yang tidak memuaskan.
Belajar merupakan hal yang terpenting yang harus dilakukan manusia untuk menghadapi perubahan lingkungan yang setiap sa’at dapat berubah. Oleh karena itu hendaknya seseorang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan yang dinamis dan penuh persaingan dengan cara belajar.Dimana didalamnya termasuk belajar memahami diri sendiri,memahami perubahan dan memahami gelobalisasi.Sehingga dengan belajar seseorang siap menghadapi perkembangan jaman yang begitu pesat
Menurut Prayitno (2009: 203) belajar adalah upaya untuk menguasai suatu hal yang baru. Menurut Muhibbin (2005: 68), belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Belajar merupakan proses perubahan sikap dan prilaku yang berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, pendapat tersebut didukung oleh Slameto (2010:2) bahwa; Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamanya sendiri berintreraksi dengan lingkungannya.
Dari uraian para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa,belajar suatu proses  usaha perubahan tingkah laku yang melibatkan jiwa dan raga sehingga menghasilkan perubahan dan pengetahuan, pemahaman, nilai, sikap dilakukan seorang individu melalui latihan dan pengalaman interaksinya dengan lingkungan yang selanjutnya dinamakan hasil belajar.
yang dikemukakan Hamalik (1995:48) hasil belajar adalah ”Perubahan Tingkah Laku yang meliputi perubahan Kognitif, Apektif dan Psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalaman yang berulang-ulang.”
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknolgi informasi dan komunikasi dewaasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. (Pemendiknas No. 22 tahun 2006).
Selanjutnya Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 menambahkan: mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diberikan agar peserta didik memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif, mata pelajaran matematika merupakan sebuah mata pelajaran untuk membuka cakrawala berfikir  peserta didik dan dapat memecahkan permasalahan yang terjadi dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar pada kehidupan sehari-hari.
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (konstektual problem). Dengan mengajukan masalah konstektual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan keomunikasi seperti komputer, alat peraga atau media lainnya. (Permendiknas No. 22 tahun 2006).
Mata pelajaran matematika dalam perkembangannya mengalami sejumlah perubahan terutama dala proses pembelajaran dalam kelas sesuai dengan kurikulum yang berlaku dimasanya. Menurut Suryadi (2009 : 159): perkembangan kurikulum matematika sekolah khususnya ditinjau dari implementasidan aspek teori belajar yang melandasinya, merupakan faktor yang sangat menarik dalam pembeicaraan tentang pendidikan matematika.
Metode demonstrasi ialah suatu upaya atau praktik dengan menggunakan peragaan yang ditujukan kepada siswa yang tujuaanya ialah agar semua siswa lebih mudah dalam memahami dan mempraktekkan dari apayang telah diperolehnya dan dapat mengatasi suatu permasalahan apabil terdapat perbedaan.
Yang dimaksud dengan metode demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu pada siswa. Sebagaimana dikemukakan Fachruddin (2009:174) bahwa metode demonstrasi adalah suatu metode yang dilakukan khusus bagi materi yang memerlukan peragaan atau percobaan.
Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar, antara lain: materi yang diajarkan, alat bantu yang digunakan, sumber pelajaran, kondisi kelas, kesiapan siswa, profesionalisme guru, dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Salah satu faktor di atas, adalah penggunaan metode yang paling efektif dalam proses pembelajaran. Jika metode pembelajaran dilaksanakan dengan baik yang melibatkan dan mengaktifkan seluruh unsur dalam pembelajaran, maka proses tersebut akan menghasilkan hasil yang optimal.

METODOLOGI PENELITIAN
            Penelitian dilakukan di kelas V SDN Situsari 01 Kec. Cisurupan Kab. Garut, pada semester II tahun pelajaran   2014/2015 dengan jadwal sebagai berikut:
Siklus I dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu, pertemuan pertama hari Senin tanggal 06 April 2015, pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu 08 April 2015. Tes siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu 11 April 2015. Pada siklus ke II sama dilaksanakan 2 kali pertemuan, pertemuan pertama hari  Senin tanggal 13 April 2015, sedangkan pertemuan kedua dilaksanakan  hari Rabu tanggal 15 Mei 2015. Tes siklus II dilaksanakan hari Jum’at tanggal 17 Mei 2015.
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, pada mata pelajaran matematika pokok bahsan operasi hitung yang melibatkan satuan pengukuran berat.
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, tiap siklus diakhiri dengan tes, dengan kegiatan antara lain: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Menurut Hopkins 1993, pada Rochiati 2008, pada Gunawan Undang, 2008:5, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
“Secara ringkas, penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka dan belajar dari pengalaman mereka sendiri” (Gunawan Undang, 2008 : 6). 
Berdasarkan pendapat tersebut, dalam penelitian tindakan kelas terdapat beberapa hal antara lain tindakan untuk memecahkan permasalahan dalam kelas baik berupa perbaikan maupun perubahan.
Adapun tujuan PTK sebagaimana diungkapkan Gunawan Undang (2008:3) adalah selain untuk memacahkan permasalahan konkrit di dalam kelas yang dialami langsung oleh guru dan siswa, juga untuk mendorong tumbuhnya budaya akademis dan meningkatkan profesionalisme guru. Siklus PTK sebgaimana digambarkan oleh pendapat ahli tersebut seperti terlihat pada gambar berikut ini:
  
 
Perencanaan
Siklus I ada dua pertemuan, yaitu:
(1)     Pertemuan 1 akan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 06 April 2015.
(2)     Pertemuan 2 akan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 08 April 2015
(3)     Tes siklus 1 akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 11 April 2015.
Adapun perangkat yang diperlukan antara lain:
1.        Surat permohonan izin penelitian
2.        Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3.        Menyiapkan format pengamatan, tes.
4.        Menyiapkan bahan - bahan pembelajaran
5.        Menyiapkan alat peraga/ alat bantu dan media pembelajaran
Pelaksanaan
Siklus I ada dua pertemuan, yaitu:
Pertemuan 1 materi yang dibahas satuan berat ons dan kg
Kegiatan awal :
(1)     Guru memberikan salam, baca do’a dan pembukaan pembelajaran dengan pembacaan basmalah
(2)     Guru mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran dengan menyiapkan bahan ajar, dan mengecek kehadiran.
(3)     Apersepsi dengan mengadakan tanya jawab tentang pekerjaan orangtua masing-masing.
(4)     Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti :
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir :
(1)     Melaksanakan tindak lanjut, tugas, dan PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Pertemuan 2, materi yang dibahas satuan berat kuintal, ton
Kegiatan awal
              Guru memberikan salam, baca do’a dan pembukaan pembelajaran dengan pembacaan basmalah
(1)     Guru mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran dengan menyiapkan bahan ajar, dan mengecek kehadiran.
(2)     Apersepsi dengan mengadakan tanya jawab tentang pekerjaan orangtua masing-masing.
(3)     Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti:
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir:
(1)     Melaksanakan tindak lanjut berupa memberi tugas/PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Tes siklus I, berupa tes tulis tentang materi sebagaimana tercantum pada pertemuan 1 dan 2.

a.    Pengamatan
Pengamatan siklus I, dilakukan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran dan hasil tes siswa.
Refleksi
1)        Menganalisis hasil tes siswa dan aktivitas siswa
2)        Mencari penyebab ketidakberhasilan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II.
1)        Siklus II
a.        Perencanaan
Pada siklus II, perencanaan sebagaimana pada siklus I, antara lain: menyiapkan RPP, alat bantu dan media pembelajaran, sumber belajar, disamping rencana perbaikan dari siklus I.
b.        Pelaksanaan
Pertemuan 1 hari Senin tanggal 13 April 2015, dengan materi yang dibahas adalah satuan berat ons, kg pon
Kegiatan awal (5 menit)
(1)     Guru memberikan salam, baca do’a dan pembukaan pembelajaran dengan pembacaan basmalah
(2)     Guru mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran dengan menyiapkan bahan ajar, dan mengecek kehadiran.
(3)     Apersepsi dengan mengadakan tanya jawab tentang pekerjaan orangtua masing-masing.
(4)     Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti:
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir (5 menit)
(1)     Melaksanakan tindak lanjut, tugas, dan PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Pertemuan 2 dilaksanakan pada haru Rabu tanggal 15 April 2015 dengan materi satuan berat campuran
Kegiatan awal (5 menit)
Seperti pada pertemuan pertama, namun dipertegas dengan penjelasan materi lebih terinci.
Kegiatan inti (60 menit)
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir (5 menit)
(1)     Melaksanakan tindak lanjut, tugas, dan PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Tes siklus II, dilaksanakan hari Jum’at tanggal 17 Mei 2015 dari materi pertemuan 1 dan 2, bentuk tes tertulis.
       Pengamatan siklus II, dilakukan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran dan hasil tes siswa.  Refleksi :
1)        Menganalisis hasil tes siswa dan aktivitas siswa
2)        Mencari penyebab ketidak berhasilan pada siklus II untuk dijadikan saran pada bab V kesimpulan dan saran.
       Teknik pengumpulan data yaitu melalui tes hasil belajar berupa tes tulis pada siklus I dan II, pengamatan baik pada hasil tes maupun aktivitas siswa pada waktu pembelajaran.
Adapun alat pengumpulan data adalah berupa tes tertulis, lembar penilaian, pengamatan hasil tes, dan pengamatan terhadap aktivitas siswa.

Teknik Analisa Data, Data yang sudah terkumpul diamati, dievaluasi, verifikasi, dan disimpulkan; data yang berasal dari hasil belajar siswa dihitung berdasarkan prosentase: skor yang benar per skor ideal kali 100%. Sehinnga ditetapkan angka perolehan berkisar antara 0-100. Sedangkan data hasil pengamatan dengan cara jumlah siswa yang aktif / tidak aktif per jumlah seluruh siswa kali 100%.
Indikator Keberhasilan Penelitian ini dianggap berhasil, jika:
1)        Siswa yang mendapat nilai di atas KKM (65)  pada siklus I ≥ 60% dan pada siklus II ≥ 75%
2)        Rata-rata kelas pada siklus I 60, dan pada siklus II 70.
3)        Aktivitas siswa pada siklus I ≥ 70% dan pada siklus II ≥ 80%.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Indikator Keberhasilan

No
Uraian Indikator
Capaian
Siklus I
Siklus II
1
Siswa yang mencapai KKM (nilai 65)
≥60%
≥75%
2
Rata-rata kelas
≥ 60
≥ 70
3
Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran
≥70%
≥80%

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 06 April 2015 dan pertemuan ke dua hari Rabu tanggal 08 April 2015, dan tes siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 11 April 2015 berupa tes tertulis. Pengamatan dilakukan terhadap hasil tes dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Setelah dianalisis baik hasil tes maupun aktivitas siswa diperoleh gambaran sebagai berikut:
a.         Siswa yang tuntas atau mencapai KKM (65) sebanyak 18 orang (69,23%)
b.        Siswa yang belum tuntas adalah sebanyak 8 orang (30,77%)
c.         Rata-rata kelas sebesar 67,69
d.        Aktivitas siswa selama proses kegiatan pembelajaran sebesar 71,02%.   
Pada siklus II, terdiri dari 2 pertemuan, pertemuan pertama pada hari Rabu tanggal 02 Mei 2012, pertemuan kedua pada hari Senin tanggal 13 April 2015, dan tes siklus II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 15 April 2015 berupa tes tertulis. Pengamatan dilakukan terhadap hasil tes dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Hasil tes dan hasil pengamatan setelah diverifikasi, dianalisis, dan tabulasi data, serta penafsiran, diperoleh gambaran sebagai berikut:
a.    Siswa yang tuntas atau mencapai KKM (65) sebanyak 23 orang (88,46%).
b.    Siswa yang belum tuntas sebanayk 3 orang (11,54%)
c.    Rata-rata Kelas sebesar 71,92
d.     Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran sebesar 80,15%.
Data Hasil Penenlitian
No
Uraian Indikator
Capaian
Siklus I
(%)
Siklus II
(%)
1
Siswa yang tuntas mencapai KKM (65)
69,23
88,46
2
Siswa yang belum tuntas
30,77
11,54
3
Rata-rata kelas
67,69
71,92
4
Aktivitas siswa
71,02
80,15

Dari tabel di atas dapat ditafsirkan bahwa masing-masing indikator; siswa yang mencapai KKM (ketuntasan belajar), rata-rata kelas, dan aktivitas siswa mengalami kenaikan yang cukup berarti, sedangkan siswa yang belum tuntas mengalami penurunan. Siswa yang mencapai KKM pada siklus I sebanyak 18 orang (69,23%), sedangkan pada siklus II sebanyak 23 orang (88,46%), ini berarti ada kenaikan sebesar 19,24% , sedangkan siswa yang belum tuntas Siswa yang belum tuntas pada siklus I sebanyak 8 orang (30,77%), sedangkan pada siklus II sebanyak 3 orang (11,53%), ini berarti ada penurunan sebesar 19,24%.  Pada siklus I sebesar 67,69, sedangkan pada siklus II sebesar 71,92, naik sebesar 4,23. Ini berarti terjadi adanya kenaikan rata-rata kelas sebagai pemahaman siswa pada materi pembelajaran.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, dari 71,02% ke 80,15% atau naik sebesar 9,13%. Hal ini membuktikan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
Adapun aktivitas siswa sebagaimana yang mengalamai kenaikan dari siklus I ke siklus II sebesar 9,13%, dengan perincian sebagai berikut:
Tabel :Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran
No
Uraian Aktivitas
Capaian
Siklus I
(%)
Siklus II
(%)
1
Keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat
63,38
75,58
2
Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru
73,23
78,85
3
Resfon terhadap pertanyaan guru
72,96
81,85
4
Partisifasi aktif dalam diskusi kelompok
71,35
82,31
5
Hubungan siswa dengan siswa dan guru
73,85
78,08
6
Tidak Mengerjakan pekerjaan lain
71,35
84,23
Rata-Rata
71,02
80,15

Keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat, meningkat dari 63,38% pada siklus I menjadi 75,58% pada siklus II, yaitu sebesar 12,20%. Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru, meningkat dari 73,23% siklus I menjadi 78,85% siklus II, kenaikan sebesar 5,62%, resfon terhadap pertanyaan guru, mengalami kenaikan sebesar 8,85% yaitu dari 72,96% siklus I menjadi 81,85% siklus II. Partisifasi aktif dalam diskusi kelompok, mengalami kenaikan sebesar 10,96% yaitu dari 71,35% siklus I menjadi 82,31% siklus II.
Hubungan siswa dengan siswa dan guru, mengalami kenaikan sebesar 4,23% yaitu dari 73,85% siklus I menjadi 78,08% siklus II, Tidak mengerjakan pekerjaan lain, mengalami kenaikan sebesar 12,88% yaitu dari 71,35% siklus I menjadi 84,23% siklus II. Rata-rata kenaikan dari siklus I ke siklus II sebesar 9,13%, ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan yang cukup baik.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dapat ditarik kesimpulan Metode Demonstrasi dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti dengan adanya peningkatan sebesar 19,24%.
Metode Demonstrasi dapat meningkatkan rata-rata pemahaman siswa terhadap materi Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti dengan adanya peningkatan sebesar 4,23.
Metode Demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti dengan adanya peningkatan sebesar 9,13%.
Dengan demikian hasil penelitian menyimpulkan, bahwa Metode Demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut.
Saran-saran
Sebagai saran dari hasil penelitian tersebut, penulis sampaikan pada pihak-pihak terkait, sebagai berikut:
a.    Kepada guru, diharapkan dapat menggunakan metode yang sesuai dengan materi pembelajaran dan kondisi siswa, diantaranya metode demonstrasi untuk lebih meningkUPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN OPERASI HITUNG YANG MELIBATKAN SATUAN PENGUKURAN BERAT MELALUI METODE DEMONTRASI SISWA KELAS V
SD NEGERI SITUSARI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT

Oleh : Alit Sumpena, S.Pd.SD
SD Negeri Pangauban  01 Kec. Cisurupan Kab. Garut

ABSTRAK

Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang kurang disenangi oleh siswa walalupun besar sekali manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Mata pelajaran matematika di kelas V SD Negeri Situsari  01 sama halnya dengan Sekolah  yang lain masih belum mencapai hasil yang diharapkan.
Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan salah satu metode yaitu metode demonstrasi, apakah dengan metode demonstrasi hasil belajar siswa dapat ditingkatkan?.
Dengan berpijak dari teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli tentang variabel yang ada pada judul penelitian, maka diperoleh gambaran dengan kerangka berpikir bahwa hasil belajar akan ditentukan oleh proses pembelajaran dimana penggunaan metode sangat berpengaruh terhadap proses tersebut. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing siklus dilakukan dalam dua kali pertemuan dengan tes pada akir tiap siklus.
Berdasarkan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, hasil penenlitian membuktikan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran matematika Kelas V SD Negeri Situsari  01 pada pokok bahasan operasi hitung yang melibatkan satuan pengukuran berat, disamping dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.
Hasil penelitian yang telah tersimpul, penulis melayangkan sejumlah saran kepada pihak-pihak terkait untuk menggunakan metode yang efektif yang sesuai dan cocok dengan karakteristik mata pelajaran, dengan harapan hasil belajar dapat ditingkatkan.



Kata Kunci  : Metode Demontrasi, dalam meningkatkan hasil belajar MATEMATIKA




PENDAHULUAN
Sesuai dengan tuntutan UU Sistim Pendidikan Nasional, proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik apabila ada interaksi antara guru dengan siswa, sehingga siswa dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Keberhasilan proses pembelajaran dapat ditunjukkan oleh penguasaan materi pelajaran yang dikuasai siswa, juga ditentukan pula oleh upaya peningkatan propesional guru.
Guru yang berkualitas tinggi atau guru yang baik memiliki ciri-ciri tertentu. Salah satu cirri itu adalah  mengaktifkan siswanya dalam belajar. Siswa diberi kesempatan untuk mengalami, mencoba, dan melaksanakan atau mempraktikan apa yang telah dipelajarinya untuk memperoleh hasil yang lebih mantap. (S. Nasution, 2009:24). Guru sebagai ujung tombak dalam pendidikan berkewajiban menciptakan situasi pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk berani melakukan interaksi tatkala proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu guru harus mampu menggunakan seluruh perangkat pembelajaran baik berupa pendekatan, metoda, media pembelajaran dan hal lainnya yang relevan dengan penciptaan situasi belajar yang kondusif.
Akan tetapi, dalam proses pembelajaran yang terjadi selama ini, tampak banyak guru yang mengabaikan cirri-ciri di atas. Khususnya pembelajaran Matematika cenderung masih konvensional. Kegiatan belajar mengajar hanya didominasi oleh guru, Akibatnya proses belajar mengajar yang dirasakan siswa membosankan, tidak menarik, dan membuat siswa tidak termotivasi. Akhirnya siswa tidak berminat untuk belajar yang berdampak pada hasil belajar yang tidak memuaskan.
Belajar merupakan hal yang terpenting yang harus dilakukan manusia untuk menghadapi perubahan lingkungan yang setiap sa’at dapat berubah. Oleh karena itu hendaknya seseorang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan yang dinamis dan penuh persaingan dengan cara belajar.Dimana didalamnya termasuk belajar memahami diri sendiri,memahami perubahan dan memahami gelobalisasi.Sehingga dengan belajar seseorang siap menghadapi perkembangan jaman yang begitu pesat
Menurut Prayitno (2009: 203) belajar adalah upaya untuk menguasai suatu hal yang baru. Menurut Muhibbin (2005: 68), belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Belajar merupakan proses perubahan sikap dan prilaku yang berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, pendapat tersebut didukung oleh Slameto (2010:2) bahwa; Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamanya sendiri berintreraksi dengan lingkungannya.
Dari uraian para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa,belajar suatu proses  usaha perubahan tingkah laku yang melibatkan jiwa dan raga sehingga menghasilkan perubahan dan pengetahuan, pemahaman, nilai, sikap dilakukan seorang individu melalui latihan dan pengalaman interaksinya dengan lingkungan yang selanjutnya dinamakan hasil belajar.
yang dikemukakan Hamalik (1995:48) hasil belajar adalah ”Perubahan Tingkah Laku yang meliputi perubahan Kognitif, Apektif dan Psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalaman yang berulang-ulang.”
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknolgi informasi dan komunikasi dewaasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. (Pemendiknas No. 22 tahun 2006).
Selanjutnya Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 menambahkan: mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diberikan agar peserta didik memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif, mata pelajaran matematika merupakan sebuah mata pelajaran untuk membuka cakrawala berfikir  peserta didik dan dapat memecahkan permasalahan yang terjadi dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar pada kehidupan sehari-hari.
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (konstektual problem). Dengan mengajukan masalah konstektual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan keomunikasi seperti komputer, alat peraga atau media lainnya. (Permendiknas No. 22 tahun 2006).
Mata pelajaran matematika dalam perkembangannya mengalami sejumlah perubahan terutama dala proses pembelajaran dalam kelas sesuai dengan kurikulum yang berlaku dimasanya. Menurut Suryadi (2009 : 159): perkembangan kurikulum matematika sekolah khususnya ditinjau dari implementasidan aspek teori belajar yang melandasinya, merupakan faktor yang sangat menarik dalam pembeicaraan tentang pendidikan matematika.
Metode demonstrasi ialah suatu upaya atau praktik dengan menggunakan peragaan yang ditujukan kepada siswa yang tujuaanya ialah agar semua siswa lebih mudah dalam memahami dan mempraktekkan dari apayang telah diperolehnya dan dapat mengatasi suatu permasalahan apabil terdapat perbedaan.
Yang dimaksud dengan metode demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu pada siswa. Sebagaimana dikemukakan Fachruddin (2009:174) bahwa metode demonstrasi adalah suatu metode yang dilakukan khusus bagi materi yang memerlukan peragaan atau percobaan.
Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar, antara lain: materi yang diajarkan, alat bantu yang digunakan, sumber pelajaran, kondisi kelas, kesiapan siswa, profesionalisme guru, dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Salah satu faktor di atas, adalah penggunaan metode yang paling efektif dalam proses pembelajaran. Jika metode pembelajaran dilaksanakan dengan baik yang melibatkan dan mengaktifkan seluruh unsur dalam pembelajaran, maka proses tersebut akan menghasilkan hasil yang optimal.

METODOLOGI PENELITIAN
            Penelitian dilakukan di kelas V SDN Situsari 01 Kec. Cisurupan Kab. Garut, pada semester II tahun pelajaran   2014/2015 dengan jadwal sebagai berikut:
Siklus I dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu, pertemuan pertama hari Senin tanggal 06 April 2015, pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu 08 April 2015. Tes siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu 11 April 2015. Pada siklus ke II sama dilaksanakan 2 kali pertemuan, pertemuan pertama hari  Senin tanggal 13 April 2015, sedangkan pertemuan kedua dilaksanakan  hari Rabu tanggal 15 Mei 2015. Tes siklus II dilaksanakan hari Jum’at tanggal 17 Mei 2015.
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, pada mata pelajaran matematika pokok bahsan operasi hitung yang melibatkan satuan pengukuran berat.
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, tiap siklus diakhiri dengan tes, dengan kegiatan antara lain: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Menurut Hopkins 1993, pada Rochiati 2008, pada Gunawan Undang, 2008:5, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
“Secara ringkas, penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka dan belajar dari pengalaman mereka sendiri” (Gunawan Undang, 2008 : 6). 
Berdasarkan pendapat tersebut, dalam penelitian tindakan kelas terdapat beberapa hal antara lain tindakan untuk memecahkan permasalahan dalam kelas baik berupa perbaikan maupun perubahan.
Adapun tujuan PTK sebagaimana diungkapkan Gunawan Undang (2008:3) adalah selain untuk memacahkan permasalahan konkrit di dalam kelas yang dialami langsung oleh guru dan siswa, juga untuk mendorong tumbuhnya budaya akademis dan meningkatkan profesionalisme guru. Siklus PTK sebgaimana digambarkan oleh pendapat ahli tersebut seperti terlihat pada gambar berikut ini:
  
SIKLUS PTK

SIKLUS II
 

SIKLUS I
 
Perencanaan
Siklus I ada dua pertemuan, yaitu:
(1)     Pertemuan 1 akan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 06 April 2015.
(2)     Pertemuan 2 akan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 08 April 2015
(3)     Tes siklus 1 akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 11 April 2015.
Adapun perangkat yang diperlukan antara lain:
1.        Surat permohonan izin penelitian
2.        Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3.        Menyiapkan format pengamatan, tes.
4.        Menyiapkan bahan - bahan pembelajaran
5.        Menyiapkan alat peraga/ alat bantu dan media pembelajaran
Pelaksanaan
Siklus I ada dua pertemuan, yaitu:
Pertemuan 1 materi yang dibahas satuan berat ons dan kg
Kegiatan awal :
(1)     Guru memberikan salam, baca do’a dan pembukaan pembelajaran dengan pembacaan basmalah
(2)     Guru mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran dengan menyiapkan bahan ajar, dan mengecek kehadiran.
(3)     Apersepsi dengan mengadakan tanya jawab tentang pekerjaan orangtua masing-masing.
(4)     Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti :
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir :
(1)     Melaksanakan tindak lanjut, tugas, dan PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Pertemuan 2, materi yang dibahas satuan berat kuintal, ton
Kegiatan awal
              Guru memberikan salam, baca do’a dan pembukaan pembelajaran dengan pembacaan basmalah
(1)     Guru mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran dengan menyiapkan bahan ajar, dan mengecek kehadiran.
(2)     Apersepsi dengan mengadakan tanya jawab tentang pekerjaan orangtua masing-masing.
(3)     Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti:
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir:
(1)     Melaksanakan tindak lanjut berupa memberi tugas/PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Tes siklus I, berupa tes tulis tentang materi sebagaimana tercantum pada pertemuan 1 dan 2.

a.    Pengamatan
Pengamatan siklus I, dilakukan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran dan hasil tes siswa.
Refleksi
1)        Menganalisis hasil tes siswa dan aktivitas siswa
2)        Mencari penyebab ketidakberhasilan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II.
1)        Siklus II
a.        Perencanaan
Pada siklus II, perencanaan sebagaimana pada siklus I, antara lain: menyiapkan RPP, alat bantu dan media pembelajaran, sumber belajar, disamping rencana perbaikan dari siklus I.
b.        Pelaksanaan
Pertemuan 1 hari Senin tanggal 13 April 2015, dengan materi yang dibahas adalah satuan berat ons, kg pon
Kegiatan awal (5 menit)
(1)     Guru memberikan salam, baca do’a dan pembukaan pembelajaran dengan pembacaan basmalah
(2)     Guru mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran dengan menyiapkan bahan ajar, dan mengecek kehadiran.
(3)     Apersepsi dengan mengadakan tanya jawab tentang pekerjaan orangtua masing-masing.
(4)     Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti:
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir (5 menit)
(1)     Melaksanakan tindak lanjut, tugas, dan PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Pertemuan 2 dilaksanakan pada haru Rabu tanggal 15 April 2015 dengan materi satuan berat campuran
Kegiatan awal (5 menit)
Seperti pada pertemuan pertama, namun dipertegas dengan penjelasan materi lebih terinci.
Kegiatan inti (60 menit)
(1)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
(2)     Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
(3)     Siapkan bahan atau alat yang diperlukan
(4)     Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
(5)     Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
(6)     Siswa dikelompokkan sesuai kebutuhan, tiap kelompok terdiri dari 5 orang anggota.
(7)     Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
(8)     Guru membuat kesimpulan
Kegiatan akhir (5 menit)
(1)     Melaksanakan tindak lanjut, tugas, dan PR.
(2)     Memberikan pesan moral.
Tes siklus II, dilaksanakan hari Jum’at tanggal 17 Mei 2015 dari materi pertemuan 1 dan 2, bentuk tes tertulis.
       Pengamatan siklus II, dilakukan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran dan hasil tes siswa.  Refleksi :
1)        Menganalisis hasil tes siswa dan aktivitas siswa
2)        Mencari penyebab ketidak berhasilan pada siklus II untuk dijadikan saran pada bab V kesimpulan dan saran.
       Teknik pengumpulan data yaitu melalui tes hasil belajar berupa tes tulis pada siklus I dan II, pengamatan baik pada hasil tes maupun aktivitas siswa pada waktu pembelajaran.
Adapun alat pengumpulan data adalah berupa tes tertulis, lembar penilaian, pengamatan hasil tes, dan pengamatan terhadap aktivitas siswa.

Teknik Analisa Data, Data yang sudah terkumpul diamati, dievaluasi, verifikasi, dan disimpulkan; data yang berasal dari hasil belajar siswa dihitung berdasarkan prosentase: skor yang benar per skor ideal kali 100%. Sehinnga ditetapkan angka perolehan berkisar antara 0-100. Sedangkan data hasil pengamatan dengan cara jumlah siswa yang aktif / tidak aktif per jumlah seluruh siswa kali 100%.
Indikator Keberhasilan Penelitian ini dianggap berhasil, jika:
1)        Siswa yang mendapat nilai di atas KKM (65)  pada siklus I ≥ 60% dan pada siklus II ≥ 75%
2)        Rata-rata kelas pada siklus I 60, dan pada siklus II 70.
3)        Aktivitas siswa pada siklus I ≥ 70% dan pada siklus II ≥ 80%.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Indikator Keberhasilan
No
Uraian Indikator
Capaian
Siklus I
Siklus II
1
Siswa yang mencapai KKM (nilai 65)
≥60%
≥75%
2
Rata-rata kelas
≥ 60
≥ 70
3
Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran
≥70%
≥80%

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 06 April 2015 dan pertemuan ke dua hari Rabu tanggal 08 April 2015, dan tes siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 11 April 2015 berupa tes tertulis. Pengamatan dilakukan terhadap hasil tes dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Setelah dianalisis baik hasil tes maupun aktivitas siswa diperoleh gambaran sebagai berikut:
a.         Siswa yang tuntas atau mencapai KKM (65) sebanyak 18 orang (69,23%)
b.        Siswa yang belum tuntas adalah sebanyak 8 orang (30,77%)
c.         Rata-rata kelas sebesar 67,69
d.        Aktivitas siswa selama proses kegiatan pembelajaran sebesar 71,02%.   
Pada siklus II, terdiri dari 2 pertemuan, pertemuan pertama pada hari Rabu tanggal 02 Mei 2012, pertemuan kedua pada hari Senin tanggal 13 April 2015, dan tes siklus II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 15 April 2015 berupa tes tertulis. Pengamatan dilakukan terhadap hasil tes dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Hasil tes dan hasil pengamatan setelah diverifikasi, dianalisis, dan tabulasi data, serta penafsiran, diperoleh gambaran sebagai berikut:
a.    Siswa yang tuntas atau mencapai KKM (65) sebanyak 23 orang (88,46%).
b.    Siswa yang belum tuntas sebanayk 3 orang (11,54%)
c.    Rata-rata Kelas sebesar 71,92
d.     Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran sebesar 80,15%.
Data Hasil Penenlitian
No
Uraian Indikator
Capaian
Siklus I
(%)
Siklus II
(%)
1
Siswa yang tuntas mencapai KKM (65)
69,23
88,46
2
Siswa yang belum tuntas
30,77
11,54
3
Rata-rata kelas
67,69
71,92
4
Aktivitas siswa
71,02
80,15

Dari tabel di atas dapat ditafsirkan bahwa masing-masing indikator; siswa yang mencapai KKM (ketuntasan belajar), rata-rata kelas, dan aktivitas siswa mengalami kenaikan yang cukup berarti, sedangkan siswa yang belum tuntas mengalami penurunan. Siswa yang mencapai KKM pada siklus I sebanyak 18 orang (69,23%), sedangkan pada siklus II sebanyak 23 orang (88,46%), ini berarti ada kenaikan sebesar 19,24% , sedangkan siswa yang belum tuntas Siswa yang belum tuntas pada siklus I sebanyak 8 orang (30,77%), sedangkan pada siklus II sebanyak 3 orang (11,53%), ini berarti ada penurunan sebesar 19,24%.  Pada siklus I sebesar 67,69, sedangkan pada siklus II sebesar 71,92, naik sebesar 4,23. Ini berarti terjadi adanya kenaikan rata-rata kelas sebagai pemahaman siswa pada materi pembelajaran.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, dari 71,02% ke 80,15% atau naik sebesar 9,13%. Hal ini membuktikan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
Adapun aktivitas siswa sebagaimana yang mengalamai kenaikan dari siklus I ke siklus II sebesar 9,13%, dengan perincian sebagai berikut:
Tabel :Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran
No
Uraian Aktivitas
Capaian
Siklus I
(%)
Siklus II
(%)
1
Keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat
63,38
75,58
2
Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru
73,23
78,85
3
Resfon terhadap pertanyaan guru
72,96
81,85
4
Partisifasi aktif dalam diskusi kelompok
71,35
82,31
5
Hubungan siswa dengan siswa dan guru
73,85
78,08
6
Tidak Mengerjakan pekerjaan lain
71,35
84,23
Rata-Rata
71,02
80,15

Keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat, meningkat dari 63,38% pada siklus I menjadi 75,58% pada siklus II, yaitu sebesar 12,20%. Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru, meningkat dari 73,23% siklus I menjadi 78,85% siklus II, kenaikan sebesar 5,62%, resfon terhadap pertanyaan guru, mengalami kenaikan sebesar 8,85% yaitu dari 72,96% siklus I menjadi 81,85% siklus II. Partisifasi aktif dalam diskusi kelompok, mengalami kenaikan sebesar 10,96% yaitu dari 71,35% siklus I menjadi 82,31% siklus II.
Hubungan siswa dengan siswa dan guru, mengalami kenaikan sebesar 4,23% yaitu dari 73,85% siklus I menjadi 78,08% siklus II, Tidak mengerjakan pekerjaan lain, mengalami kenaikan sebesar 12,88% yaitu dari 71,35% siklus I menjadi 84,23% siklus II. Rata-rata kenaikan dari siklus I ke siklus II sebesar 9,13%, ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan yang cukup baik.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dapat ditarik kesimpulan Metode Demonstrasi dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti dengan adanya peningkatan sebesar 19,24%.
Metode Demonstrasi dapat meningkatkan rata-rata pemahaman siswa terhadap materi Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti dengan adanya peningkatan sebesar 4,23.
Metode Demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti dengan adanya peningkatan sebesar 9,13%.
Dengan demikian hasil penelitian menyimpulkan, bahwa Metode Demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Operasi Hitung Yang Melibatkan Satuan Pengukuran Berat Kelas V SD Negeri Situsari 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut.
Saran-saran
Sebagai saran dari hasil penelitian tersebut, penulis sampaikan pada pihak-pihak terkait, sebagai berikut:
a.    Kepada guru, diharapkan dapat menggunakan metode yang sesuai dengan materi pembelajaran dan kondisi siswa, diantaranya metode demonstrasi untuk lebih meningkatkan efektivitas pembelajaran serta hasil belajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
b.    Kepada kepala sekolah, diharapkan dapat memberikan motivasi/ dorongan bagi para guru untuk menggunakan metode demonstrasi guna meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa sesuai dengan materi yang diajarkan.
c.    Kepada pihak sekolah, pengawas, diharapkan agar memfasilitasi guru dalam melaksanakan metode demonstrasi yang sesuai dengan materi dan karakteristik pembelajaran, serta memberikan pembinaan yang berkesinambungan, baik melalui supervisi langsung maupun kegiatan pembinaan yang dilaksanakan di Kelompok Kerja Guru (KKG).

DAFTAR PUSTAKA
Asy’ari, M. Pd. dkk, (2004) Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial. PT. Erlangga : Jakarta
Depdiknas, (2004) Kurikulum Berbasis Kompetensi Kelas VI, Depdiknas: Jakarta
_________, (2007), Panduan Tugas Akhir Program Sarjana FKIP.TIM TAP FKIP Universitas terbuka : Jakarta
Fachruddin, Saudagar, dkk, 2009. Pengembangan Profesonalitas Guru, Jakarta: Gaung Persada (GB Press).
Gunawan Undang, 2008. Teknik Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Sayagatama.
Nasution, S. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Permendiknas nomor 22 tahun 2006. Tentang Standar Isi, Jakarta: Depdiknas
Pidarta Made, 2007, Landasan Kependidikan, Jakarta: Rieneka Cipta.
Prayitno, 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Jakarta: Grasindo.
Ruseffendi. 1992, Pendidikan Matematika 3 : Universitas Terbuka.
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Suryadi, 2009. Ilmu dan aplikasi Pendidikan. Bandung: Imperial Bakti Utama
 atkan efektivitas pembelajaran serta hasil belajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
b.    Kepada kepala sekolah, diharapkan dapat memberikan motivasi/ dorongan bagi para guru untuk menggunakan metode demonstrasi guna meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa sesuai dengan materi yang diajarkan.
c.    Kepada pihak sekolah, pengawas, diharapkan agar memfasilitasi guru dalam melaksanakan metode demonstrasi yang sesuai dengan materi dan karakteristik pembelajaran, serta memberikan pembinaan yang berkesinambungan, baik melalui supervisi langsung maupun kegiatan pembinaan yang dilaksanakan di Kelompok Kerja Guru (KKG).

DAFTAR PUSTAKA
Asy’ari, M. Pd. dkk, (2004) Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial. PT. Erlangga : Jakarta
Depdiknas, (2004) Kurikulum Berbasis Kompetensi Kelas VI, Depdiknas: Jakarta
................., (2007), Panduan Tugas Akhir Program Sarjana FKIP.TIM TAP FKIP Universitas terbuka : Jakarta
Fachruddin, Saudagar, dkk, 2009. Pengembangan Profesonalitas Guru, Jakarta: Gaung Persada (GB Press).
Gunawan Undang, 2008. Teknik Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Sayagatama.
Nasution, S. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Permendiknas nomor 22 tahun 2006. Tentang Standar Isi, Jakarta: Depdiknas
Pidarta Made, 2007, Landasan Kependidikan, Jakarta: Rieneka Cipta.
Prayitno, 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Jakarta: Grasindo.
Ruseffendi. 1992, Pendidikan Matematika 3 : Universitas Terbuka.
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Suryadi, 2009. Ilmu dan aplikasi Pendidikan. Bandung: Imperial Bakti Utama