UPAYA
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS POKOK BAHASAN MENGENAL SUMBER
DAYA DENGAN PENERAPAN PENDEKATAN LINGKUNGAN SISWA KELAS IV SD NEGERI PANGAUBAN 01
KECAMATAN
CISURUPAN KABUPATEN GARUT
Di susun Oleh : Kusniawati, A.Ma.Pd
SD Negeri Pangauban 01 Kec. Cisurupan Kab. Garut
Posting : erikbudiman3@gmail.com
ABSTRAK
Kenyataann di lapangan
dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya di SD Negeri Cisurupan UPTD Pendidikan
Kecamatan Cisurupan,
Guru IPS masih
menggunakan metodologi pembelajaran yang bersifat konvensional, sehingga hasil
belajar siswa yang diharapkan meningkat masih belum memenuhi harapan.
Penelitian ini mencoba dengan menggunakan salah satu metode yang masih belum
banyak digunakan, yakni metode pendekatan lingkungan dengan harapan hasil
belajar siswa dalam mata pelajaran IPS pada khusunya dapat ditingkatkan. Dengan
mengkaji teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli tentang variabel yang ada
pada judul penelitian, maka diperoleh gambaran tentang variabel tersebut untuk
kemudian dikembangkan pada pelaksanaan metodologi penelitian. Metodologi penelitian
menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus, siklus I dan II, yang masing-masing
siklus terdiri dari aktivitas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan
refleksi.
Penelitian ini terdiri
dari 2 kali pertemuan, yaitu
pertemuan pertama dan kedua, dan tes dilaksanakan setiap akhir masing-masing
siklus. Hasil penelitian dibahas meliputi analisis hasil tes siswa, dan
pengamatan terhadap keaktifan siswa selama proses pembelajaran, dan hasil
penelitian menyimpulkan bahwa metode pendekatan lingkungan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa, dan rata-rata kelas, disamping meningkatkan aktivitas
siswa dalam pembelajaran dan mengurangi aktivitas yang kurang relevan dengan
pembelajaran.
Dari kesimpulan hasil
penelitian, peneliti menyampaikan sejumlah saran bagi pihak-pihak terkait; baik
siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, dan institusi terkait dibidang
pendidikan, khususnya di lingkungan UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, guna
perbaikan proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar yang diharapkan.
Kata Kunci : Penerapan Pendekatan
Lingkungan, untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS
PENDAHULUAN
Dalam konteks sosial, manusia
demikian luasnya, maka pada pembelajaran IPS setiap jenjang pendidikan, kita
harus melakukan pembatasan sesuai dengan kemampuan siswa pada tingkat
masing-masing, Ahli-ahli
IPS banyak berpendapat bahwa radius ruang lingkup pengajaran IPS di SD dibatasi
sampai gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau geografi dan sejarah,
terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada pada
lingkungan hidup murid SD tersebut.
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS) adalah bagian dari sejumlah mata pelajaran yang diajarkan di
Sekolah Dasar, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan kelompok mata pelajaran
sains dan teknologi, yang merupakan bagian dari standar isi (Permendiknas nomor
22 tahun 2006 tentang Standar Isi).
Peneliti tertarik dengan
permasalahan-permasalahan yang menyangkut pemanfaatan lingkungan sebagai sumber
belajar, yang dirumuskan dalam judul penelitian. Peneliti yakin apabila guru
tidak mengetahui perkembangan anak, maka guru akan menghadapi kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya, sebab guru telah mengabaikan potensi anak, sedangkan
bila guru melupakan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, maka guru akan membina
anak didik dalam mimpi-mimpi yang tidak realistis.
Salah satu tantangan
mendasar dalam pengajaran IPS saat ini adalah bagaimana mencari strategi
pembelajaran yang inovatif yang memungkinkan meningkatnya mutu proses
pembelajaran. Perkembangan dan kemajuan IPTEK membuka kemungkinan siswa tidak
hanya belajar di dalam kelas akan tetapi peserta didik dapat belajar di luar
kelas.
Namun
demikian, mata pelajaran IPS pada umumnya masih belum mencapai hasil yang
diharapkan, hal ini diseba bukan
mayoritasguru dalam penyajian pelajaran IPS sering menggunakan metode ceramah
yang terkadang membosankan anak didik, di samping itu pada umumnya guru belum
bisa memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungan sebagai sumber daya
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Oleh karena itu peneliti
terdorong untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam sebuah lapran
penelitian tindakan kelas dengan judul: ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Mata
Pelajaran IPS Pokok Bahasan Mengenal Sumber Daya Dengan Penerapan Pendekatan
Lingkungan Siswa Kelas IV SD Negeri Pangauban 01 Kecamatan Cisurupan Kabupaten
Garut”.
Adapun
tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran
IPS pokok bahasan mengenal sumber daya pada siswa kelas IV SD Negeri Pangauban
01 Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Hasil belajar adalah sejumlah pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan
sebagai hasil dari proses pembelajaran. Belajar itu sendiri adalah sebuah
interaksi antara guru dan murid yang melibatkan lingkungan, sehingga terjadi
perubahan.
Belajar menurut Pidarta (2007 : 206) adalah perubahan prilaku yang
relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hal perkembangan, pengaruh
obat, atau kecelakaan) dan bisa
melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada
orang lain.
Prayitno (2009: 203) berpendapat bahwa belajar
adalah upaya untuk menguasai suatu hal yang baru. Senada dengan pendpat
tersebut, Muhibbin (2005: 68), mendefinisikan bahwa belajar dapat dipahami
sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap
sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses
kognitif.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, belajar dapat
diartikan sebagai upaya perubahan menuju arah yang lebih baik, baik perubahan
tingkah laku dalam interaksi masnusia dengan lingkungan, berkaitan dengan ranah
kognitif.
Belajar
akan dikatakan baik atau berhasil apabila faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar terpenuhi, faktor-faktor itu antara lain sebagaimana dikemukakan
Purwanto (2002:102) sebagai berikut:
a.
Faktor
yang ada pada organism itu sendiri atau faktor individual (kematangan
atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi).
b.
Faktor
yang ada di luar individu atau disebut faktor sosial (faktor
keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yng
dipergunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia,
dan motivasi sosial).
Menurut Sutikno (2008:16), “kematangan adalah
suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya
sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru”. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah
siap (matang). Jadi,
kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan
belajar.
Cara orang
tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Hal ini jelas
dan dipertegas oleh Sutjipto Wirowidjojo pada Slameto (2010:61) yang menyatakan bahwa
keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat
besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan
untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara, dan dunia.
Mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang biasa disingkat dengan IPS merupakan
kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang cakupannya
dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta menanamkan kebiasaan berfikir, dan perilaku ilmiah yang
kritis, kreatif dan mandiri. Berdasarkan kurikulum 2006, mata pelajaran IPS
mendapat porsi waktu 3 jam pelajaran setiap minggu. (Permendiknas Nomor 22
tahun 2006).
Selanjutnya
dalam Permendiknas tersebut disebutkan bahwa: Ilmu Pengetahun Sosial (IPS)
merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SLB sampai
SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan
generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata
pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi. Melalui
mata pelajaran IPS, peserta didik arahkan untuk dapat menjadi warga negara
Indonesia yang demokratis, dan bertanggungjawab, serta earga dunia yang cinta
damai.
Di masa
yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan
masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata
pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan
kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan
masyarakat yang dinamis.
Mata
pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensip, dan terpadu dalam proses
pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman
yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. (Permendiknas
Nomor 22 tahun 2006).
Salah satu
upaya untuk meningkatkan hasil belajar adalah penggunaan metode, model, maupun
pendekatan dalam pembelajaran. Pendekatan lingkungan adalah bagian dari sebuah
pendekatan, dimana siswa secara langsung dapat belajar dari lingkungan.
Mulyasa
dalam Heryawan (2012:43) menjelaskan bahwa pendekatan lingkungan merupakan
suatu pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik
melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar.
Selanjutnya
Mulyasa mengatakan bahwa pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran
akan menarik perhatian peserta didik jika apa yang dipelajari diangkat dari
lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan
berpaidah bagi lingkungannya.
Berkaitan
dengan pendekatan lingkungan, UNECSO 1980, pada Heryawan (2012:43) mengemukakan
jenis-jenis lingkungan yang dapat didayagunakan peserta didik untuk kepentingan
pembelajaran, diantaranya:
a.
Lingkungan
yang meliputi faktor-faktor fisik, biologi, sosial, ekonomi dan budaya yang
berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung, dan berinteraksi dengan
kehidupan peserta didik.
b.
Sumber
masyarakat yang meliputi setiap unsur atau fasilitas yang ada dalam suatu
kelompok masyarakat.
c.
Ahli-ahli
setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan khusus
dan berkaitan dengan kepentingan pembelajaran.
Ada dua
cara yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan
pendekatan lingkungan, yaitu:
Membawa
peserta didik ke suatu lingkungan untuk kepentingan pembelajaran. Hal ini bisa
dilakukan dengan metode karya wisata, metode pemberian tugas, dan lain-lain.
Membawa sumber-sumber dari lingkungan
ke sekolah (kelas) untuk kepentingan pembelajaran. Sumber-sumber tersebut bisa
sumber asli seperti narasumber, bisa juga sumber tiruan seperti model dan gambar.
Guru sebagai pemandu pembelajaran
dapat memanfaatkan lingkungan secara maksimal untuk kepentingan pembelajaran,
namun dalam penggunaannya sebaiknya didiskusikan dengan peserta didik
(Heryawan, 2012:44).
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan dalam proses
pembelajaran yang melibatkan sejumlah metode, dan siswa secara langsung belajar
dari lingkungan tempat dia berada, sehingga hal ini memungkinkan tercapainya
hasil belajar secara efektif dan efisien.
Hasil
belajar akan optimal, jika pemroses pembelajaran (guru) mampu menggunakan alat
proses (metode) dengan baik dan efektif. Dengan kata lain bahwa keberhasilan
suatu proses belajar akan ditentukan oleh guru selaku pelaku dan metode yang
digunakan selaku alat dalam proses pembelajaran.
Lokasi Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah SD Negeri Pangauban 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Cisurupan Kabupaten
Garut. Pelaksaan penelitian dilaksanakan dalam dua Siklus, yang menjadi subjek dalam penelitian ini
adalah siswa kelas IV SD Negeri Pangauban 01 UPTD Pendidikan Kecamatan
Cisurupan Kabupaten Garut
sebanyak 25
orang.
Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah hasil belajar
siswa pada mata pelajaran IPS pokok bahasan mengenal
sumber daya kelas IV SD Negeri Pangauban 01 UPTD Pendidikan Kecamatan
Cisurupan Kabupaten Garut.
Penelitian ini adalah
penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2
kali pertemuan, dan setiap akhir pertemuan pada pertemuan ke tiga dilaksanakan
tes sebanyak 2 kali, yaitu tes siklus I dan II.
Menurut
Hopkins 1993, pada Rochiati 2008, pada Gunawan Undang, (2008:5). Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur
penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam
disiplin inkuiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang
terjadi sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
“Secara
ringkas, penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat
mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka dan belajar dari
pengalaman mereka sendiri” (Gunawan Undang, 2008 : 6).
Berdasarkan pendapat
tersebut, dalam penelitian tindakan kelas terdapat beberapa hal antara lain
tindakan untuk memecahkan permasalahan dalam kelas baik berupa perbaikan maupun
perubahan.
Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) minimal dilaksanakan dalam 2 siklus dengan kegiatan;
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. (Kunandar, 2010:70)
![]() |
Penelitian ini adalah
Penelitian Tindakan Kelas dengan 2 siklus yaitu siklus I dilaksanakan dua
pertemuan, masing masing pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran (2x35 menit).
Adapun tes dilaksanakan setelah selesai pertemuan kedua. Siklus II sebagaimana
siklus I, terdiri dari 2 pertemuan dan pada akhir pertemuan dilaksanakan tes.
Sedangkan kegiatanya adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Perencanaan
Siklus I, dilaksanakan
dalam 2 pertemuan yang masing masing pertemuan 2 jam pelajaran (2 x 35 menit).
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 2 April 2013 dan
pertemuan kedua pada hari Selasa tanggal 9 April 2013 diakhiri dengan tes
tertulis tanggal 16 April 2013.
Metode yang digunakan
adalah model pendekatan lingkungan.
Adapun kegiatannya
adalah:
-
Menyiapkan
surat izin melaksanakan penelitian
-
Menyiapkan
RPP dan perangkat pembelajaran yang lainnya
-
Menyiapkan
lembar kerja/ lembar tugas (LK-LT)
-
Membuat
daftar hadir siswa dan daftar hadir tes
-
Menyiapkan
format penilaian dan pengamatan
Pelaksanaan
Sesuai dengan rencana, pertemuan
pertama materi yang dibahas adalah bentuk-bentuk
ekonomi di lingkungan dan pertemuan kedua membuat daftar tentang
kegiatan pemanfaatan sumber daya alam.
Adapun dengan langkah-langkah
pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut:
Kegiatan Awal (2 x 5
menit)
1)
Guru membuka pembelajaran dengan pembacaan salam, do’a dan
basmalah.
2)
Guru
mengkondisikan siswa supaya siap pengikuti pembelajaran.
3)
Mengecek
kehdiran siswa
4)
Melaksanakan
apersepsi
5)
Menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan,
Kegitan inti (2 x 60 menit)
1)
Siswa menyimak
penjelasan Guru tentang materi yang akan dipelajari,
2)
Siswa dibagi ke dalam 6
kelompok yang terdiri dari 6 anggota
3)
Siswa di bagi lembar
kerja/ lembar pengamatan dan pengisiannya dibimbing oleh guru
4)
Siswa diajak keluar kelas
untuk mengamati bentuk-bentuk ekonomi yang ada di lingkungan.
5)
Siswa mencatat hasil
pengamatan dari pada bentuk ekonomi (pertemuan pertama) dan pada pertemuan
kedua siswa membuat daftar
tentang kegiatan pemanfaatan sumber daya alam
6)
Diskusi kelompok hasil
pengamatan dari bentuk ekonomi dan aktivitas ekonomi.
7) Siswa melaporkan hasil diskusi
kelompok dan mempresentasikannya di depan kelas,
8) Tiap kelompok diberikan untuk menanggapi
Kegiatan akhir (2 x 5 menit)
1)
Siswa bersama guru
menyimpulkan hasil diskusi,
2)
Siswa diberi tugas
Pekerjaan Rumah.
3) Guru bersama siswa mengakhiri pembelajaran dengan membaca
hamdalah
Pada pertemuan
berikutnya guru memberikan Tes siklus I mengenai materi yang
disampaikan pada pertemuan 1 dan 2. Adapun soal tes yang diberikan berupa tes
tulis.
Pengamatan
Pengamatan
siklus I, dilakukan terhadap aktivitas siswa dan hasil tes siswa dalam
mengikuti pembelajaran siklus I.
Refleksi
Menganalisis
hasil tes dan aktivitas siswa, Mencari
penyebab ketidakberhasilan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II.
Siklus
II
Perencanaan
Siklus II dilaksanakan
dalam dua pertemuan, yaitu, Pertemuan
pertama dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 23 April 2013. Pertemuan kedua
dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 30 April 2013, Tes siklus II
dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2013
Adapun
kegaitannya meliputi:
1.
Mempersiapkan
RPP
2.
Menyiapkan
alat-alat dan bahan pembelajaran
3.
Menyiapkan
lembar kerja
4.
Menyiapkan
lembar pengamatan dan sebagainya yang berkaitan dengan rencana siklus II.
Pelaksanaan
Materi yang
dibahas pada pertemuan pertama adalah menjelaskan sumber daya alam yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, dan
materi pada pertemuan kedua adalah
pengaruh kondisi alam terhadap
kegiatan ekonomi. Adapun langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai
berikut:
Kegiatan Awal (2 x 5
menit)
1) Guru membuka pembelajaran dengan pembacaan
salam, do’a dan dibuka dengan basmalah.
2) Guru mengecek kehadiran siswa
3) Guru mengkondisikan siswa supaya siap pengikuti
pembelajaran.
4) Melaksanakan apersepsi
5) Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan,
Kegitan inti (2 x 60 menit)
1) Guru menjelaskan materi yang akan disampaiakn dan siswa menyimak penjelasan Guru,
2) Guru membagi siswa ke dalam 6 kelompok diskusi
3) Guru menjelaskan pengisian format dan lembar pengamatan yang
harus diselesaikan secara berkelompok
4) Siswa diajak keluar untuk mengamati sumber
daya alam yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, (pada pertemuan pertama) dan pengaruh kondisi alam terhadap kegiatan ekonomi. (pada pertemuan
kedua).
5) Diskusi kelompok hasil pengamatan dari sumber daya alam dan
daftar pemanfaatn.
6) Siswa melaporkan hasil diskusi
kelompok dan mempresentasikannya di depan kelas,
7) Tiap kelompok diberikan untuk menanggapi
Kegiatan akhir (2 x 5 menit)
1) Siswa bersama guru menyimpulkan hasil
diskusi,
2) Siswa diberi tugas Pekerjaan Rumah.
3) Guru bersama siswa mengakhiri pembelajaran dengan membaca
hamdalah
Tes
siklus II
mengenai materi yang disampaikan pada pertemuan 1 dan 2. Adapun soal tes yang
diberikan berupa tes tulis.
Pengamatan
siklus II, dilakukan oleh peneliti sendiri terhadap hasil tes dan aktivitas
siswa selama proses pembelajaran. Menganalisis hasil tes dan aktivitas
siswa. untuk
direkomendasikan sebagai saran
Data
yang sudah terkumpul diamati, dievaluasi, verifikasi, dan disimpulkan; data
yang berasal dari hasil belajar siswa dihitung berdasarkan prosentase: skor
yang benar per skor ideal kali 100%. Sehinnga ditetapkan angka perolehan
berkisar antara 0-100. Sedangkan data hasil pengamatan dengan cara jumlah siswa
yang aktif / tidak aktif per jumlah seluruh siswa kali 100%.
Indikator
keberhasilan dari penelitian ini adalah:
a.
Siswa
yang mendapat nilai di atas KKM (65) pada siklus I ≥ 60% dan pada siklus II ≥
70%
b.
Rata-rata
kelas pada siklus I ≥ 60, dan pada siklus II ≥ 70.
c. Siswa yang aktif pada siklus I ≥ 60% dan
pada siklus II ≥ 80%.
Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
|
No
|
Uraian
Indikator
|
Capaian
|
|
|
Siklus
I
|
Siklus
II
|
||
|
1
|
Siswa
yang mencapai KKM (nilai 65)
|
≥
60%
|
≥
70%
|
|
2
|
Rata-rata
kelas
|
≥
60
|
≥
70
|
|
3
|
Aktivitas
siswa dalam proses pembelajaran
|
≥
60%
|
≥
80%
|
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sebagaimana telah diungkapkan pada bab III tentang
pelaksanaan tindakan siklus PTK, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan,
siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 2 April 2013 dan pertemuan ke dua hari Selasa tanggal 9 April 2013, dan tes siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 16 April 2013 berupa tes tertulis. Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Setelah dianalisis baik hasil tes maupun aktivitas siswa diperoleh gambaran sebagai berikut:
a.
Siswa yang mencapai KKM (65) sebanyak
16 orang (64%)
b.
Siswa yang belum tuntas adalah
sebanyak 9 orang (36%)
c. Rata-rata
kelas sebesar 63,20.
d.
Aktivitas siswa selama proses kegiatan
pembelajaran sebesar 71,28%.
Pada siklus II, terdiri dari 2 pertemuan, pertemuan
pertama pada hari
Selasa tanggal 23 April 2032, pertemuan kedua pda hari Selasa tanggal 30 April 2013, dan tes siklus II
dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 Mei 2013 berupa tes tertulis. Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Hasil tes dan hasil pengamatan setelah diverifikasi,
dianalisis, dan tabulasi data, serta penafsiran, diperoleh gambaran sebagai
berikut:
a.
Siswa yang mencapai KKM (65) sebanyak
21 orang (84%).
b.
Siswa yang beum tuntas sebanayk 4
orang (16%)
c.
Rata-rata Kelas sebesar 70,40
d.
Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran
sebesar 80,03%.
Gambaran tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
|
No
|
Uraian
Indikator
|
Capaian
|
|
|
Siklus
I (%)
|
Siklus
II (%)
|
||
|
1
|
Siswa
yang mencapai KKM (65)
|
64
|
84
|
|
2
|
Siswa
yang belum tuntas
|
36
|
16
|
|
3
|
Rata-rata
kelas
|
63,20
|
70,40
|
|
4
|
Aktivitas siswa
dalam proses pembelajaran
|
71,28
|
80,03
|
Dari tabel di atas dapat ditafsirkan bahwa masing-masing indikator; siswa
yang mencapai KKM (ketuntasan belajar), rata-rata kelas, dan aktivitas siswa
mengalami kenaikan yang cukup berarti, sedangkan siswa yang belum tuntas
mengalami penurunan.
Untuk lebih jelasnya hasil
penelitian, pembahasannya sebagai berikut:
1. Ketuntasan belajar/ siswa
yang mencapai KKM (65) pada siklus I sebesar 64% sedangkan pada siklus II
sebesar 84%. Ini berarti ada kenaikan sebesar 20%.
2. Siswa yang belum tuntas
pada siklus I sebesar 36% sedangkan pada siklus II sebesar 16,00%. Ini berarti
ada penurunan sebesar 20%.
3. Rata-rata kelas atau
pemahaman materi, siklus I sebesar 63,20 sedangkan pada siklus II sebesar
70,40, berarti ada kenaikan sebesar 7,20.
Aktivitas
siswa naik dari siklus I sebesar 71,28% menjadi 80,03% pada siklus II, berarti
naik 8,75%.
Aktivitas
siswa dalam proses pembelajaran dengan kenaikan sebesar 8,75%, dirinci sebagai
berikut:
|
No
|
Indikator
|
Ketercapaian
|
|
|
Siklus I (%)
|
Siklus II (%)
|
||
|
1
|
Ketertarikan
terhadap materi
|
71,96
|
82,32
|
|
2
|
Memperhatikan
penjelasan guru
|
71,24
|
81,20
|
|
3
|
Hubungan
siswa dengan siswa serta guru selama pembelajaran
|
72,08
|
78,72
|
|
4
|
Menyelesaikan
tugas mandiri dan tugas kelompok
|
72,40
|
78,80
|
|
5
|
Interaksi
siswa dalam mengikuti diskusi kelompok
|
70,20
|
81,72
|
|
6
|
Keberanian
bertanya dan mengemukakan pendapat
|
69,80
|
77,40
|
|
Rata-Rata
|
71,28
|
80,03
|
|
Tabel di atas dapat ditafsirkan
sebagai berikut:
1.
Ketertarikan terhadap materi, mengalami kenaikan dari siklus
I ke siklus II, dari 71,96% menjadi 82,32%, naik sebesar 10,36%.
2.
Memperhatikan penjelasan guru, naik dari siklus I sebesar
71,24% menjadi 81,20% pada siklus II, berarti ada kenaikan sebesar 9,96%.
3.
Hubungan siswa dengan siswa serta guru selama pembelajaran,
mengalami kenaikan dari siklus I ke
siklus II sebesar 6,64%, dari 72,08% pada siklus I menjadi 78,72% pada siklus
II.
4.
Menyelesaikan tugas mandiri dan tugas kelompok, mengalami
kenaikan dari siklus I ke siklus II
sebesar 6,40%, dari 72,40% pada siklus I menjadi 78,80% pada siklus II.
5.
Interaksi siswa dalam mengikuti diskusi kelompok, mengalami
kenaikan dari siklus I ke siklus II
sebesar 11,52%, dari 70,20% pada siklus I menjadi 81,72% pada siklus II.
6.
Keberanian bertanya dan mengmukakan pendapat, mengalami
kenaikan dari siklus I ke siklus II
sebesar 7,60%, dari 69,80% pada siklus I menjadi 77,40% pada siklus II.
Rata-rata
kenaikan aktivitas siswa sebesar 8,75%, yaitu dari 71,28% pada silkus I menjadi
80,03% pada siklus II.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan data yang
diperoleh dari hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana diungkapkan sebagai
berikut :
a.
Pendekatan Lingkungan dapat meningkatkan ketuntasan belajar
mata pelajaran IPS pokok bahasan mengenal sumber daya siswa kelas IV SD Negeri
Pangauban 01 Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti
dengan adanya kenaikan sebesar 20%.
b.
Pendekatan Lingkungan dapat meningkatkan rata-rata pemahaman
siswa terhadap materi mata pelajaran IPS pokok bahasan mengenal sumber daya
kelas IV SD Negeri Pangauban 01 Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut,
terbukti dengan adanya kenaikan sebesar 7,20.
c.
Pendekatan Lingkungan dapat meningkatkan aktivitas siswa pada
mata pelajaran IPS pokok bahasan mengenal sumber daya kelas IV SD Negeri
Pangauban 01 Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, terbukti
dengan adanya kenaikan sebesar 8,75%.
Dengan
demikian hasil penelitian menyimpulkan bahwa pendekatan
lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS pokok bahasan
mengenal sumber daya kelas IV SD Negeri Pangauban 01 Kecamatan Cisurupan
Kabupaten Garut.
Saran
Dari hasil
penelitian ini, disampaikan saran-saran kepada pihak terkait, diantaranya:
1)
Bagi
guru, disarankan dalam mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
sebaiknya dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar;
2)
Bagi kepala sekolah, disarankan
agar memfasilitasi para guru dalam melaksanakan pembelajaran pada mata
pelajaran dan materi tertentu serta memberikan motivasi utuk mencoba menerapkan
metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, karakteristik pembelajaran dan
indikator yang telah ditetapkan.
3)
Bagi
sekolah, disarankan menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran serta alat
bantu mengajar yang dibutuhkan oleh guru dalam proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan
Undang, 2008. Teknik Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Sayagatama.
Heriyawan,
Adang, dkk, 2012. Metodologi Pembelajaran, Kajian Teoritis Praktis, Banten:
LP3G. Indonesia.
Kunandar.
2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi
Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Muhibbin, Syah.
2005. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Permendiknas,
Nomor 16 Tahun 2007. Tentang Kualifikasi Akademik dan Satandar Kompetensi
Guru, Jakarta: Depdiknas.
Pidarta,
Made, 2007, Landasan Kependidikan, Jakarta: Rieneka Cipta.
Prayitno,
2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Jakarta: Grasindo.
Purwanto. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosda Karya
Sardiman. 2011. Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Slameto. 2010. Belajar dan
Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sutikno, M.
S. 2008. Belajar
dan Pembelajaran. Bandung: Prospek

Tidak ada komentar:
Posting Komentar